Hadist Tentang Larangan di dalam shalat


Dilarang berbicara di dalam shalat
عَنْ زَيْدِ بْنِ اَرْقَمَ قَالَ: كُنَّا نَتَكَلَّمُ فِى الصَّلاَةِ. يُكَلّمُ الرَّجُلُ صَاحِبَهُ وَ هُوَ اِلىَ جَنْبِهِ فِى الصَّلاَةِ حَتَّى نَزَلَتْ: وَ قُوْمُوْا ِللهِ قَانِتِيْنَ. فَاُمِرْنَا بِالسُّكُوْتِ وَ نُهِيْنَا عَنِ اْلكَلاَمِ. مسلم 1: 383
Dari Zaid bin Arqam, ia berkata : Kami dahulu biasa berbicara di dalam shalat, yaitu orang berbicara dengan temannya yang disebelahnya di dalam shalat, hingga turun ayat (yang artinya) : "Kerjakanlah shalat karena Allah dengan tunduk (diam)". [QS. Al-Baqarah : 238]. Setelah itu, kami diperintahkan supaya diam, dan kami dilarang berbicara". [HR. Muslim juz 1, hal. 383]
عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ: كُنَّا نُسَلّمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ ص وَ هُوَ فِى الصَّلاَةِ فَيَرُدُّ عَلَيْنَا. فَلَمَّا رَجَعْنَا مِنْ عِنْدِ النَّجَاشِى سَلَّمْنَا عَلَيْهِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيْنَا. فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، كُنَّا نُسَلّمُ عَلَيْكَ فِى الصَّلاَةِ فَتَرُدُّ عَلَيْنَا. فَقَالَ: اِنَّ فِى الصَّلاَةِ شُغْلاً. مسلم 1: 382
Dari 'Abdullah (Ibnu Mas'ud), ia berkata : Kami dahulu biasa memberi salam kepada Rasulullah SAW, ketika beliau sedang shalat, dan beliau membalas salam itu kepada kami. Tetapi setelah kami kembali dari Najasyi ( Ethiopia ), kami memberi salam kepada beliau, maka beliau SAW tidak menjawab salam kami itu. Lalu kami bertanya, "Ya Rasulullah ! Dahulu kami memberi salam kepadamu ketika engkau sedang shalat dan engkau mau membalas kepada kami". Maka jawab Rasulullah SAW, "Sesungguhnya di dalam shalat itu ada pekerjaan (yang khusus)". [HR Muslim juz 1, hal. 382]
عَنْ جَابِرٍ قَالَ: كُنَّا مَعَ النَّبِيّ ص فَبَعَثَنِى فِى حَاجَةٍ فَرَجَعْتُ وَ هُوَ يُصَلّى عَلَى رَاحِلَتِهِ وَ وَجْهُهُ عَلَى غَيْرِ اْلقِبْلَةِ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَلَمْ يَرُدَّ عَلَيَّ. فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ: اِنَّهُ لَمْ يَمْنَعْنِى اَنْ اَرُدَّ عَلَيْكَ اِلاَّ اَنّى كُنْتُ اُصَلّى. مسلم 1: 384
Dari Jabir, ia berkata : Dahulu kami bersama Nabi SAW, lalu beliau mengutusku untuk suatu keperluan. Kemudian ketika aku kembali, beliau sedang shalat di atas kendaraannya dengan tidak menghadap ke qiblat, lalu aku memberi salam kepada beliau, tetapi beliau tidak menjawab salamku. Setelah selesai shalat, beliau bersabda, "Sesungguhnya tidak ada yang menghalangiku untuk menjawab salammu, kecuali karena aku sedang shalat". [HR. Muslim juz 1, hal. 384]
Dilarang menoleh
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص عَنِ اْلاِلْتِفَاتِ فِى الصَّلاَةِ، فَقَالَ: اِخْتِلاَسٌ يَخْتَلِسُهُ الشَّيْطَانُ مِنْ صَلاَةِ  اْلعَبْدِ. البخارى 1: 183
Dari 'Aisyah, ia berkata : Aku pernah bertanya kepada Rasulullah SAW tentang menoleh di dalam shalat, maka jawab beliau, "(Menoleh itu) satu copetan yang syaithan mencopetnya dari shalatnya seorang hamba". [HR Bukhari juz 1, hal. 183]
عَنْ اَبِى ذَرّ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص لاَ يَزَالُ اللهُ مُقْبِلاً عَلَى اْلعَبْدِ فِى صَلاَتِهِ مَا لَمْ يَلْتَفِتْ، فَاِذَا صَرَفَ وَجْهَهُ انْصَرَفَ عَنْهُ. احمد و النسائى وابو داود، فى نيل الاوطار 2: 371
Dari Abu Dzarr, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Allah senantiasa menghadap kepada hamba-Nya di dalam shalatnya, selama hamba itu tidak menoleh. Maka apabila hamba itu memalingkan wajahnya, Allah pun berpaling darinya". [HR Ahmad, Nasai dan Abu Dawud, dalam Nailul Authar juz 2, hal. 371]
عَنْ اَنَسٍ قَالَ: قَالَ لِى رَسُوْلُ اللهِ ص: اِيَّاكَ وَاْلاِلْتِفَاتَ فِى الصَّلاَةِ فَاِنَّ اْلاِلْتِفَاتَ فِى الصَّلاَةِ هَلَكَةٌ فَاِنْ كَانَ لاَ بُدَّ فَفِى التَّطَوُّعِ لاَ فِى اْلفَرِيْضَةِ. الترمذى و صححه، فى نيل الاوطار 2: 371
Dari Anas, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda kepadaku, "Jauhkanlah dirimu dari menoleh di dalam shalat, karena sesungguhnya menoleh didalam shalat itu suatu kebinasaan. Adapun kalau terpaksa menoleh, maka boleh di dalam shalat sunnah, tidak di dalam shalat wajib". [HR Tirmidzi, dan ia menshahihkannya, dalam Nailul Authar juz 2, hal. 371]
Dilarang melihat ke atas
عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص لَيَنْتَهِيَنَّ اَقْوَامٌ يَرْفَعُوْنَ اَبْصَارَهُمْ اِلىَ السَّمَاءِ فِى الصَّلاَةِ اَوْ لاَ تَرْجِعُ اِلَيْهِمْ.
Dari Jabir bin Samurah, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Hendaklah orang-orang itu menghentikan perbuatannya memandang ke langit di dalam shalat, atau (kalau tidak mau), pandangannya tidak akan kembali lagi kepada mereka (mereka akan buta)". [HR Muslim juz 1, hal. 321]
عَنْ اَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَا بَالُ اَقْوَامٍ يَرْفَعُوْنَ اَبْصَارَهُمْ اِلىَ السَّمَاءِ فِى صَلاَتِهِمْ، فَاشْتَدَّ قَوْلُهُ فِى ذٰلِكَ حَتَّى قَالَ: لَيَنْتَهُنَّ عَنْ ذٰلِكَ اَوْ لَتُخْطَفَنَّ اَبْصَارُهُمْ. البخارى 1: 182
Dari Anas bin Malik, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Bagaimana orang-orang itu mengangkat pandangannya ke langit di dalam shalat mereka". Dan Rasulullah SAW mengingatkan mereka dengan keras, hingga beliau bersabda, "Sungguh, mereka mau berhenti dari perbuatan itu, atau akan dihilangkan penglihatan mereka". [HR  Bukhari juz 1, hal. 182]
Dilarang meludah ke depan
عَنْ اَنَسٍ رض عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: اِذَا كَانَ فِى الصَّلاَةِ فَاِنَّهُ يُنَاجِى رَبَّهُ فَلاَ يَبْزُقَنَّ بَيْنَ يَدَيْهِ وَ لاَ عَنْ يَمِيْنِهِ. وَ لٰكِنْ عَنْ شِمَالِهِ تَحْتَ قَدَمِهِ اْليُسْرَى. البخارى 2: 62
Dari Anas RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Apabila seseorang sedang shalat, sesungguhnya ia sedang bercakap-cakap dengan Tuhannya. Maka janganlah ia meludah di depannya dan jangan pula di kanannya, tetapi (boleh) di kirinya di bawah tapak kaki kirinya". [HR. Bukhari juz 2, hal. 62].
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ وَ اَبِى سَعِيْدٍ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص رَأَى نُخَامَةً فِى حَائِطِ اْلمَسْجِدِ فَتَنَاوَلَ رَسُوْلُ اللهِ ص حَصَاةً فَحَتَّهَا ثُمَّ قَالَ: اِذَا تَنَخَّمَ اَحَدُكُمْ فَلاَ يَتَنَخَّمْ قِبَلَ وَجْهِهِ وَ لاَ عَنْ يَمِيْنِهِ وَ لْيَبْصُقْ عَنْ يَسَارِهِ اَوْ تَحْتَ قَدَمِهِ اْليُسْرَى. البخارى 1: 106
Dari Abu urairah dan Abu Sa'id bahwasanya Rasulullah SAW melihat dahak di tembok masjid, maka beliau mengambil kerikil lalu menghilangkan dahak tersebut. Kemudian beliau bersabda, "Apabila seseorang diantara kalian berdahak maka janganlah ia berdahak di depannya atau di kanannya, tetapi hendaklah ia ludahkan ke kirinya, atau di bawah kakinya yang kiri". [HR. Bukhari juz 1, hal. 106]
قَالَ اَنَسٌ اَنَّ النَّبِيَّ ص رَأَى نُخَامَةً فِى اْلقِبْلَةِ، فَشَقَّ ذٰلِكَ عَلَيْهِ حَتَّى رُؤِيَ فِى وَجْهِهِ فَقَامَ فَحَكَّهُ بِيَدِهِ. فَقَالَ: اِنَّ اَحَدَكُمْ اِذَا قَامَ فِى صَلاَتِهِ فَاِنَّهُ يُنَاجِى رَبَّهُ اَوْ اِنَّ رَبَّهُ بَيْنَهُ وَ بَيْنَ اْلقِبْلَةِ فَلاَ يَبْزُقَنَّ اَحَدُكُمْ قِبَلَ قِبْلَتِهِ وَ لٰكِنْ عَنْ يَسَارِهِ اَوْ تَحْتَ قَدَمَيْهِ. ثُمَّ اَخَذَ طَرَفَ رِدَائِهِ فَبَصَقَ فِيْهِ ثُمَّ رَدَّ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ فَقَالَ: اَوْ يَفْعَلُ هٰكَذَا. البخارى 1: 105
Dari Anas, bahwasanya Nabi SAW melihat dahak di bagian qiblat masjid, maka hal itu menyusahkan beliau, sehingga tampak pada wajahnya, lalu berdiri dan menghilangkannya dengan tangan beliau. Kemudian bersabda, "Sesungguhnya seseorang diantara kalian apabila sedang shalat, ia sedang bercakap-cakap dengan Tuhannya, atau sesungguhnya Tuhannya berada diantara dia dan qiblat, maka janganlah seseorang diantara kalian meludah ke arah qiblat, tetapi (boleh) ke kirinya atau ke bawah dua tapak kakinya". Kemudian Nabi mengambil ujung selendangnya, lalu ia meludah padanya, kemudian menggosoknya sambil bersabda, "Atau ia berbuat begini". [HR. Bukhari juz 1, hal. 105]
Dilarang menahan kencing dan berak ketika akan shalat
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: لاَ صَلاَةَ بِحَضْرَةِ الطَّعَامِ، وَ لاَ وَ هُوَ يُدَافِعُهُ اْلأَخْبَثَانِ. مسلم 1: 393
Dari 'Aisyah, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Tidak (sempurna) shalat ketika makanan sudah disiapkan, dan tidak (sempurna pula) ketika menahan kencing dan berak". [HR  Muslim juz 1, hal. 393].
Boleh membunuh ular dan sebagainya
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ النَّبِيَّ ص اَمَرَ بِقَتْلِ اْلاَسْوَدَيْنِ فِى الصَّلاَةِ، اَلْعَقْرَبِ وَاْلحَيَّةِ. الخمسة وصححه الترمذى، فى نيل الاوطار 2: 381
Dari Abu Hurairah, bahwasanya Nabi SAW menyuruh supaya membunuh dua binatang hitam di dalam shalat, yaitu kala jengking dan ular". [HR. Khomsah, dishahihkan oleh Tirmidzi, dalam Nailul Authar juz 2, hal. 381]
Membukakan pintu di dalam shalat
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يُصَلّى فِى اْلبَيْتِ وَ اْلبَابُ عَلَيْهِ مُغْلَقٌ، فَجِئْتُ فَمَشَى حَتَّى فَتَحَ لِى ثُمَّ رَجَعَ اِلَى مَقَامِهِ، وَ وَصَفَتْ اَنَّ اْلبَابَ فِى اْلقِبْلَةِ. الخمسة الا ابن ماجه، فى نيل الاوطار 2: 382
Dari 'Aisyah, ia berkata, "Rasulullah SAW pernah shalat di dalam rumah sedang pintunya tertutup, lalu saya datang, maka Rasulullah SAW berjalan hingga ia membukakan pintu untuk saya, kemudian beliau kembali ke tempat shalatnya". Dan Aisyah menerangkan, bahwa pintu tersebut berada di arah qiblat. [HR. Khomsah kecuali Ibnu Majah, dalam Nailul Authar juz 2, hal. 382]
Show comments
Hide comments

0 Komentar:

Post a Comment

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

 

Catatan

Dari Jabir, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “(Yang membedakan) antara seseorang dan kekufuran adalah meninggalkan shalat”. [HR. Jama’ah, kecuali Bukhari dan Nasai, dalam Nailul Authar juz 1, hal. 340]